Text

Kita Mungkin Bisa Menerima, Tapi..

kurniawangunadi:

Saya telah melewati fase ini, tapi pembelajaran yang terjadi dari lompatan fase itu tidak akan pernah lekang dan akan menjadi nasihat yang nanti saya teruskan ke anak-anak saya nantinya. Terkait memilih pasangan hidup.

Kita, sebagai remaja yang mungkin pada fase tersebut dilanda banyak keresahan terkait pasangan hidup, waktu yang terus bergulir memakan usia, kemudian dorongan dalam diri yang ingin segera masuk ke fase berikutnya. Hal-hal yang seringnya, membuat pikiran dan hati kita tidak stabil. Logika kita tidak berjalan dengan baik, begitu pula perasaan kita yang mudah sekali berubah-ubah.

Apalagi, saat kita dihadapkan pada kondisi dimana kita justru dipertemukan dengan orang-orang yang menguji value yang kita pegang selama ini. Ada hal baik yang ada pada dirinya, meski ada tapinya. Dan “tapi” inilah yang membuat kita kebingungan dengan diri kita sendiri.

Pada waktu itu, nasihat ini datang kepada saya. 

“Kamu boleh jadi bisa dan luas hatinya untuk menerima orang lain seburuk apapun masa lalu yang dia miliki, ditambah dengan asumsimu bahwa dia sudah berubah meski mungkin itu belum benar-benar bisa kamu validasi, tapi kamu berprasangka baik. Dia yang masih merokok, dia yang pernah berhubungan dengan perempuan di luar bayangan kita, dia yang shalatnya belum tegak lima waktu, segala sesuatu yang kita rasa, itu bisa diubah seiring pernikahan.

“Boleh jadi kamu bisa menerima mereka dengan terbuka, tapi coba benturkan hal itu jika nanti ada anak-anak. Apakah kamu akan membiarkan anak-anakmu terpapar asap setiap hari di rumah bahkan sejak dia lahir? Apakah kamu menjelaskan dengan baik, dan membanggakan laki-laki itu nanti sebagai ayah dari anak-anakmu.”

“Inilah yang seringkali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Bahwa, sejatinya memilih pasangan hidup, salah satunya adalah bentuk kewajiban kita untuk menunaikan hak-hak anak kita memiliki ayah/ibu yang baik. Hak yang harus kita tunaikan. Kita tidak semata menikah hanya untuk kepuasan diri, ego, dan asumsi-asumsi kita.”

“Selama kita masih punya keleluasaan untuk memilih dan membuat keputusan. Maka, seberat apapun upayanya. Kukira, itu tidak akan selamanya. Tapi, pernikahan itu, selalu kita harap akan baik selamanya kan?  Tak ada salahnya kita berusaha lebih keras dan lebih lama sedikit, berdoa lebih kuat lagi, kemudian memberanikan diri untuk melewati fase ini dengan lebih logis dan dengan iman. Agar langkah kita tidak didorong oleh ego kita untuk segera memiliki status, ego karena malu belum menikah sendiri, ego karena ingin seperti teman-teman kita yang lain, ego karena dirasa menikah itu menyelesaikan seluruh permasalahan hidup.”

Justru, pernikahan itu menambah masalah. Kalau kita salah menentukan pilihan, salah dalam membuat keputusan, masalah yang akan kita hadapi dalam pernikahan, akan jauh lebih sulit. 

Berjuanglah lebih lama sedikit, lebih bersabar, agar kita sampai pada pelajaran yang utuh. Agar kita sampai di titik, dimana kita bertemu dengan orang yang benar-benar membuat kita yakin dan percaya bahwa anak-anak kita, layak memiliki ayah/ibu seperti dia. Di sini, semua standar kita soal ketampanan, kekayaan, dan semua hal yang tampak permukaan akan luluh. Kalah oleh akhlak, kalah oleh karakter seseorang. Sebab akhlak/karakter adalah cerminan pemahaman hidup seseorang, cerminan pikiran-pikirannya, cerminan tentang visi yang ingin kita hidupkan.

Bersabarlah, sedikit lagi. Karena pernikahan yang seumur hidup, terlalu berharga untuk kita korbankan demi ego-ego dan perasaan kita yang tak mampu kita kendalikan saat ini.

Kurniawan Gunadi

Yogyakarta, 17 Juni 2020

Text
image

Aamiin..

Quote
"

Ketika malas kajian ingatlah selalu ini: jika tidak disibukan dengan hal yg bermanfaat, maka akan disibukan dengan hal yg sia-sia.

Semangaaat!!

"
Tags: selfreminder
Text

Am I Left Behind?

yasirmukhtar:

Ada sebuah penyakit, saya tidak tahu nama resminya. Tapi kita namakan saja “Sindrom Ketinggalan Balapan”.

Indikasinya begini:

• Kamu sedang belajar atau meniti karir, tapi have no idea kamu mau jadi seperti apa di ujungnya nanti.

• Kamu ngeliat figur-figur hebat di bidang kamu. Di satu sisi kamu jadi bersemangat, di sisi lain kamu jadi overwhelmed karena ngerasa banyak banget hal yang mesti kamu pelajari untuk berada pada posisi seperti mereka.

• Efek lainnya juga, mungkin kamu jadi ngerasa ketinggalan, atau bahkan ngerasa udah salah jalan selama ini.

• Lalu kamu ngerasa tahun-tahun yang sudah kamu lalui kamu habiskan begitu saja, agak sia-sia. Kesal dan menyesal rasanya.

• Terlebih, kalau figur yang kamu lihat adalah teman sebaya kamu. Ada yang udah sampai di sana, ada yang udah jadi ini, ada yang sudah menghasilkan itu. Rasanya pengen mencet tombol restart hidup–andai saja ada.


Apa yang mesti dipikirkan-dilakukan dalam kondisi begitu?

Penanganan pertama: “Ingat, hakikat yang paling hakiki tentang hidup, bahwa kita semua akan mati, lalu semua cita-cita, pencapaian, karir–betapapun cemerlangnya, akan berakhir. Tutup buku. Apa yang penting adalah amal yang kita niatkan, persembahkan, untuk Sang Pencipta.

Penganan kedua: “Ingat, semua orang berproses. Semua yang ada di puncak pernah mendaki dari bawah. Jika kita masih di bawah, santai aja. Panik tidak akan membuat kita tiba-tiba berada di puncak. Tenang. Terus bejalan, selangkah demi selangkah. Lakukan sekecil apapun upaya kamu untuk menjadi versi lebih baik dari diri kamu, setiap hari, setiap waktu.”

Penanganan ketiga: “Ingat, hidup bukan balapan. Yang lebih dahulu menjadi hebat tidak membuatnya superior secara permanen dibanding kita; suatu saat kita bisa melampauinya. Terlebih, yang di mata kita sudah hebat, barangkali payah dan berantakan dalam sekian aspek–yang mungkin kita baik di sana. Kasih sayang keluarga, pertemanan yang berkualitas, ibadah yang khusyu’–banyak sekali hal yang matters dalam hidup yang tidak perlu syarat untuk memilikinya.

Oke, sementara segitu dulu.

Tarik nafaaas, hembuskan. Ayo kita jalan lagi, selangkah demi selangkah.

It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.

Confucius

Bismillah.

(via jamikanasa)

Text

3. berprasangka yang baik

prawitamutia:

pernahkah kamu merasa risih atas sesuatu yang dikatakan (dan tidak dikatakan) oleh orang lain? atas sesuatu yang dilakukan (dan tidak dilakukan) oleh orang lain? bahkan, atas sesuatu yang dituliskan (dan tidak dituliskan) oleh orang lain?

mereka bertanya apa kabar, kamu pikir mereka sedang ada maunya. mereka bercerita tentang kehidupan “bahagia” masing-masing, kamu pikir mereka riya dan pamer. mereka bertanya kapan lulus-kerja di mana-kapan menikah-kenapa belum hamil-kapan punya adik lagi–dan sederet pertanyaan lain, kamu pikir mereka mengintimidasimu. mereka menulis tentang suatu hal yang berbeda pendapat denganmu, kamu pikir mereka menyindir bahkan menyudutkanmu.

pernahkah kamu merasa malu karena ternyata semua itu belum tentu? yang menanyakan kabarmu, bagaimana kalau ia memang peduli denganmu? yang bercerita tentang kebahagiaan, bagaimana kalau ia sedang belajar mensyukuri hidupnya? yang bertanya kapan lulus-kerja di mana-dan semuanya, bagaimama kalau ia hanya mencari cara untuk membuka obrolan kembali denganmu? yang menulis tentang suatu hal yang berbeda pendapat denganmu, bagaimana kalau ia sedang menulis untuk dirinya sendiri?

kamu saja mungkin, yang seperti itu. kamu saja mungkin yang kalau bertanya apa kabar, sedang ada maunya. kamu saja mungkin yang kalau bercerita tentang kehidupan bahagiamu, sedang riya dan pamer. kamu saja mungkin, orang lain tidak.

seringkali apa yang kita duga diniatkan dan dipikirkan oleh orang lain sejatinya merupakan niatan dan pikiran kita sendiri. semakin buruk kita berprasangka kepada orang lain, seburuk itu pulalah diri kita tercermin. malu, kan?

saat kamu berharap–berprasangka terlalu baik kepada seseorang–kerap yang kamu dapatkan adalah kecewa. namun, saat kamu berprasangka buruk, kerap yang kamu dapatkan adalah rasa malu. dua-duanya, percayalah, masalahnya bukan ada di luar, melainkan ada di dalam dirimu sendiri. akarnya? hanya satu, ketiadaan syukur.

coba periksa prasangkamu. periksa harapmu. periksa syukurmu.
kamu saja mungkin, yang kurang bersyukur. orang lain tidak.

Text

Untuk yang sedang dalam penantian

andinavika:

Untuk kamu yang sedang dalam penantian, berdoalah dengan cara yang baik. Jangan lelah untuk berdoa kepada Allah. Sampaikan apa-apa saja yang ingin kamu sampaikan mulai dari bagaimana kriteria orangnya, bagaimana kehidupannya, bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana dia nantinya dengan kamu dan keluargamu. Sampaikan dengan spesifik karena Allah Maha mendengar. Jika sudah tiba saatnya, Allah akan menjawab semua permintaanmu. Bahkan akan memberikan seseorang lebih dari ekspektasi yang kamu kira dan inginkan.

Untuk kamu yang sedang dalam penantian. Menantilah dengan cara baik. Jangan letih untuk mencari perhatian Allah. Maka Allah akan memberikan seseorang yang baik pula. Namun, jangan sekali-sekali mencoba untuk mencari perhatian langsung ke lawan jenis karena jodoh adalah cerminan diri. Mencari perhatian atau kode langsung ke lawan jenis itu sama saja secara tidak sadar kamu ingin mendapatkan orang yang juga suka dengan kodean. Entah itu mungkin kode dari kamu atau bisa juga kode dari perempuan lain. Jadi, jangan langsung mengkode orangnya. Berikan kode itu pada Allah, jika Allah ridho dan merestui, Allah yang akan menyampaikan kode itu. Jika Ia tidak suka, Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Kamu tidak akan kecewa atau malu nantinya. Karena semua tersimpan rapi antara kamu dan Allah. Aman

Untuk kamu yang sedang dalam penantian. Berusahalah dengan cara yang baik. Maka Allah akan berikan keajaiban-keajaiban yang tidak akan pernah kamu kira sebelumnya. Datanglah ketempat-tempat baik, berinteraksi dengan cara yang baik dan bersilahturahmi dengan orang-orang baik. Karena segala sesuatunya bisa datang dari mana saja dan kapan saja.

Untuk kamu yang sedang dalam penantian. Menantilah dengan sebaik-sebaiknya menanti. Isi dengan kerjaan yang baik dan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan produktif. Karena penantian tidak akan terasa lama jika dibarengi dengan aktivitas yang baik dan pikiran yang baik. Penantian akan terasa berharga karena kita menanti sesuatu yang berharga pula.

Andina Avika Hasdi
@andinavika

Text

Notulensi Diskusi Online ASA Indonesia “Pentingnya Pendidikan Pra Nikah Sejak dini”

asaindonesia:

Pemateri (boomber) : Ikhsanun Kamil Pratama

Pernikahan harmonis, sesungguhnya bukan pernikahan yang tidak memiliki konflik sama sekali. Pernikahan harmonis adalah pernikahan yang memiliki konflik, dan ketika pasangan suami-istri memiliki kemampuan memanajemen setiap perbedaan yang ada. Memanajemen perbedaan adalah sebab terpenting dalam sebuah pernikahan, disebut menikah dewasa. 

Banyak orang berharap mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan, tetapi fakta di lapangan tidak demikian. Hal tersebut diperparah dengan tidak adanya ilmu yang dimilki untuk memanajemen perbedaan yang ada. Kemenag mendapatkan data tahun 2015 bahwa satu dari lima pernikahan berakhir dengan perceraian. Kejadian tersebut merupakan kejadian yang masuk kategori pertama dalam hal jodoh. 

Jodoh kategori pertama hanya di dunia saja, tidak sampai akhirat karena berakhir dengan perceraian. Jodoh kategori dua, yaitu ketika di dunia selalu bersama, namun tidak sampai akhirat. Hal tersebut, tentu bukanlah hal yang diharapkan sehingga tidak cukup hanya sekedar bertemu jodoh, kemudian menikah. 

Banyak suami, istri, dan anak, hidup di dalam rumah yang sama, but they are homeless. Pernikahan harmonis dalam kasus ini tidak tercapai. Pernikahan harmonis yang kita bangun, kelak akan menjadi warisan terindah bagi anak-anak. Jodoh kategori tiga adalah jodoh di dunia yang harmonis dan dipertemukan di akhirat. Mereka kompak, harmonis, namun berakhir di neraka. Contohnya, yang tertulis di Al-quran, kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil. Mereka pasangan yang sangat kompak dalam menghina dan membully Rasulullah dan menentangnya.    

Dewasa ini, semakin terasa bahwa kita perlu mempunyai ilmu menjadi home untuk orang-orang disekitar kita. Latihan perdana sebelum menikah, adalah menjadi home untuk orang tua kita. Pondasi dasar dari jodoh dunia akhirat tidak datang begitu saja, namun perlu dibentuk dan diperjuangkan. Pondasi paling dasar adalah niat. Mungkin ini terkesan klise, namun ternyata sangat mempengaruhi segalanya. 

Niat itu seperti surat, salah tulis akan salah alamat. Ada orang yang ketika niat dimulutnya berucap karena ibadah, tapi hatinya berniat karena bosasn hidup sendiri. Apa yang riskan dari hal tersebut ? ketika menikah karena bosan hidup sendiri, akhirnya ada yang menemani. Namun, mulai kecewa berat ketika dihadapkan dalam sebuah kondisi yang sulit. 

Ada contoh lain, ketika berucap niat untuk menikah adalah untuk ibadah. Namun, dalam hati ternyata karena sudah lelah dan ingin kabur dari rumah. Ketika kita bicara tentang meluruskan niat, sebetulnya bukan hal yang klise. Tapi hal yang penting karena melibatkan suara hati, untuk menguaknya kita perlu kejujuran dan kerelaan hati.

 Jika menikah karena sudah betul-betul ingin beribadah, ini sungguh luar biasa dan kita perlu mengemudikan hati kita di jalan seperti ini. Lalu, maksud menikah karena ibadah itu seperti apa ? sebelum menjawab hal tersebut. Kita harus terlebih dahulu memahami, bahwa dalam hidup terdapat dua titik, yaitu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Kedua hal itu, adalah hal yang pasti di dalam hidup. Inilah sebabnya pernikahan sering disebut menyempurnakan separuh agama. Ketika pernikahan terjadi, kebahagiaan bobotnya akan ditambah, kesedihan juga. Hak akan bertambah, kewajiban juga.

 Rezeki semakin bertambah, tentu juga sesekali akan diberikan kesempitan. Maka akan semakin tidak relevan jika menikah hanya sekedar untuk bahagia. Hal tersebut akan cenderung menjauhkan hati kita dari ketidakpastian menerima kekecewaan. Maka menikah untuk ibadah itu adalah ketika kita mengejar yang namanya berkah. Apa artinya berkah ? bertambahnya kebaikan disetiap kondisi. 

So, menikah untuk ibadah berarti kesiapan hati untuk menerima semua takdirNya dan berela hati untuk melakukan yang terbaik dari apapun yang ditakdirkanNya. Jika sudah siap, menikahlah dan kemudikan hati di jalan barokah. Setelah meluruskan niat, kita perlu belajar dan meng-upgrade diri dengan ilmu-ilmu, agar kita bisa membangun home untuk keluarga kita sendiri. Setelah meng-upgrade kita harus menyeleksi. Menikahi pasangan yang kita cintai itu kemungkinan, mencintai pasangan yang kita nikahi itu kewajiban.

 Diantara empat kategori jodoh, tentu kita menginginkan jodoh dunia sampai akhirat dan berkumpul di surga kan. Namun, melakukannya bukannlah hal yang mudah. Hal tersebut sangat BERHARGA. Ia perlu menundukkan nafsu, menyalakan logika, dan mengunakan nurani. Pondasi sederhananya, adalah niat. Bagaimana mengemudikan niat kita di jalan berkah. Berkah sebelum pernikahan dengan menjaga tidak berpacaran, berkah ketika proses menuju pernikahan, dan berkah pula setelah akad nikah teucap. Kita tidak akan bisa menyangka, ketika kita melakukan itu semua, kita bisa berjumpa dengan jodoh dunia akhirat, dan membangun rumah tangga surga. Sebuah rumah tangga yang seindah surga, sebuah rumah sebagai tangga menuju surga.

(via andinavika)

Text

Kepadamu

kurniawangunadi:

Pernahkah dalam satu waktu dalam hidupmu, kamu bertemu dengan orang baik. Kemudian jatuh cinta kepadanya? Tapi takdir hanya mengantarkanmu pada perasaan itu, tidak pernah lebih jauh lagi.

Percayalah, tidak pernah salah dalam mencintai orang baik. Paling tidak, kamu bisa mengetahui bahwa “selera”mu masih cukup baik. Paling tidak, kamu masih waras untuk mencari pasangan hidup seperti apa yang tepat. Paling tidak, kamu masih mengerti bahwa hidup tidak hanya sebatas tampilan fisik, melainkan hati. Paling tidak, kamu juga cukup sadar bahwa kelak akan menjadi orang tua dan anak-anak yang lahir darimu nanti berhak atas orang tua yang terbaik,

Meski pada akhirnya, orang baik yang kamu cintai itu tidak menjadi milikmu. Kamu menyadari semua hal di atas. Justru menjadi perkara bila yang terjadi dalam dirimu adalah hal-hal sebaliknya. Ketika kebaikan itu kamu abaikan dan kamu sibuk jatuh cinta pada kecantikan/ketampanan, harta, keturunan, dan hal-hal seperti itu.

Percayalah, tidak ada yang salah bila kamu mencintai orang baik. Sekalipun ia tidak menjadi pasanganmu nanti, tapi selalu ada kebaikan yang kamu bisa ambil darinya.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 19 desember 2016

Text

Notulensi Diskusi Online ASA Indonesia “Pentingnya Pendidikan Pra Nikah Sejak dini”

asaindonesia:

Pemateri (boomber) : Ikhsanun Kamil Pratama

Pernikahan harmonis, sesungguhnya bukan pernikahan yang tidak memiliki konflik sama sekali. Pernikahan harmonis adalah pernikahan yang memiliki konflik, dan ketika pasangan suami-istri memiliki kemampuan memanajemen setiap perbedaan yang ada. Memanajemen perbedaan adalah sebab terpenting dalam sebuah pernikahan, disebut menikah dewasa. 

Banyak orang berharap mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan, tetapi fakta di lapangan tidak demikian. Hal tersebut diperparah dengan tidak adanya ilmu yang dimilki untuk memanajemen perbedaan yang ada. Kemenag mendapatkan data tahun 2015 bahwa satu dari lima pernikahan berakhir dengan perceraian. Kejadian tersebut merupakan kejadian yang masuk kategori pertama dalam hal jodoh. 

Jodoh kategori pertama hanya di dunia saja, tidak sampai akhirat karena berakhir dengan perceraian. Jodoh kategori dua, yaitu ketika di dunia selalu bersama, namun tidak sampai akhirat. Hal tersebut, tentu bukanlah hal yang diharapkan sehingga tidak cukup hanya sekedar bertemu jodoh, kemudian menikah. 

Banyak suami, istri, dan anak, hidup di dalam rumah yang sama, but they are homeless. Pernikahan harmonis dalam kasus ini tidak tercapai. Pernikahan harmonis yang kita bangun, kelak akan menjadi warisan terindah bagi anak-anak. Jodoh kategori tiga adalah jodoh di dunia yang harmonis dan dipertemukan di akhirat. Mereka kompak, harmonis, namun berakhir di neraka. Contohnya, yang tertulis di Al-quran, kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil. Mereka pasangan yang sangat kompak dalam menghina dan membully Rasulullah dan menentangnya.    

Dewasa ini, semakin terasa bahwa kita perlu mempunyai ilmu menjadi home untuk orang-orang disekitar kita. Latihan perdana sebelum menikah, adalah menjadi home untuk orang tua kita. Pondasi dasar dari jodoh dunia akhirat tidak datang begitu saja, namun perlu dibentuk dan diperjuangkan. Pondasi paling dasar adalah niat. Mungkin ini terkesan klise, namun ternyata sangat mempengaruhi segalanya. 

Niat itu seperti surat, salah tulis akan salah alamat. Ada orang yang ketika niat dimulutnya berucap karena ibadah, tapi hatinya berniat karena bosasn hidup sendiri. Apa yang riskan dari hal tersebut ? ketika menikah karena bosan hidup sendiri, akhirnya ada yang menemani. Namun, mulai kecewa berat ketika dihadapkan dalam sebuah kondisi yang sulit. 

Ada contoh lain, ketika berucap niat untuk menikah adalah untuk ibadah. Namun, dalam hati ternyata karena sudah lelah dan ingin kabur dari rumah. Ketika kita bicara tentang meluruskan niat, sebetulnya bukan hal yang klise. Tapi hal yang penting karena melibatkan suara hati, untuk menguaknya kita perlu kejujuran dan kerelaan hati.

 Jika menikah karena sudah betul-betul ingin beribadah, ini sungguh luar biasa dan kita perlu mengemudikan hati kita di jalan seperti ini. Lalu, maksud menikah karena ibadah itu seperti apa ? sebelum menjawab hal tersebut. Kita harus terlebih dahulu memahami, bahwa dalam hidup terdapat dua titik, yaitu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Kedua hal itu, adalah hal yang pasti di dalam hidup. Inilah sebabnya pernikahan sering disebut menyempurnakan separuh agama. Ketika pernikahan terjadi, kebahagiaan bobotnya akan ditambah, kesedihan juga. Hak akan bertambah, kewajiban juga.

 Rezeki semakin bertambah, tentu juga sesekali akan diberikan kesempitan. Maka akan semakin tidak relevan jika menikah hanya sekedar untuk bahagia. Hal tersebut akan cenderung menjauhkan hati kita dari ketidakpastian menerima kekecewaan. Maka menikah untuk ibadah itu adalah ketika kita mengejar yang namanya berkah. Apa artinya berkah ? bertambahnya kebaikan disetiap kondisi. 

So, menikah untuk ibadah berarti kesiapan hati untuk menerima semua takdirNya dan berela hati untuk melakukan yang terbaik dari apapun yang ditakdirkanNya. Jika sudah siap, menikahlah dan kemudikan hati di jalan barokah. Setelah meluruskan niat, kita perlu belajar dan meng-upgrade diri dengan ilmu-ilmu, agar kita bisa membangun home untuk keluarga kita sendiri. Setelah meng-upgrade kita harus menyeleksi. Menikahi pasangan yang kita cintai itu kemungkinan, mencintai pasangan yang kita nikahi itu kewajiban.

 Diantara empat kategori jodoh, tentu kita menginginkan jodoh dunia sampai akhirat dan berkumpul di surga kan. Namun, melakukannya bukannlah hal yang mudah. Hal tersebut sangat BERHARGA. Ia perlu menundukkan nafsu, menyalakan logika, dan mengunakan nurani. Pondasi sederhananya, adalah niat. Bagaimana mengemudikan niat kita di jalan berkah. Berkah sebelum pernikahan dengan menjaga tidak berpacaran, berkah ketika proses menuju pernikahan, dan berkah pula setelah akad nikah teucap. Kita tidak akan bisa menyangka, ketika kita melakukan itu semua, kita bisa berjumpa dengan jodoh dunia akhirat, dan membangun rumah tangga surga. Sebuah rumah tangga yang seindah surga, sebuah rumah sebagai tangga menuju surga.

(via andinavika)

Photo
dokterfina:
““Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT kan?!”
Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga...

dokterfina:

“Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT kan?!”

Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.
Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab.
Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis.
Mainkan saja peranmu, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk.
Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? Tetaplah berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut.
Mainkan saja peranmu dengan sebaik sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam, menengadah mesra bersamanya.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati.
Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Adam yang menanti Hawa di sisi.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu.
Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah takdir manusia.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasah menjadikan kekuatan untuk tetap taat.

Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.


Oleh : Salim A. Fillah